Arsip untuk Januari, 2013

Budidaya Kelapa Sawit

Posted: 21 Januari 2013 in Tak Berkategori

Kelapa sawit ( Elaeis guinensis jacg ) adalah salah satu dari beberapa palma yang menghasilkan minyak untuk tujuan komersil. Minyak sawit selain digunakan sebagai minyak makanan margarine, dapat juga digunakan untuk industri sabun, lilin dan dalam pembuatan lembaran-lembaran timah serta industri kosmetik .

SYARAT -SYARAT TUMBUH

  • Curah hujan minimum 1000-1500 mm /tahun, terbagi merata sepanjang tahun.
  • Suhu optimal 26°C.
  • Kelembaban rata-rata 75 %.
  • Dapat tumbuh pada bermacam-macam tanah, asalkan gembur, aerasi dan draenasenya baik, kaya akan humus dan tidak mempunyai lapisan padas.
  • pH tanah antara 5,5 – 7,0.

P E M B I B I T A N

a. Pengecambahan Biji.

  • Biji dipanaskan dalam germinator selama 60 hari dengan suhu tetap 390 C dan kadar air 18%.
  • Kemudian biji direndam dalam air mengalir selama 6 hari, hingga kadar air naik menjadi 24%.
  • Selanjutnya biji dikeringkan selama 3 jam dalam ruangan yang teduh.
  • Biji dimasukkan dalam kantong plastik ukuran 38 x 39 cm sebanyak 500 biji, kemudian ditutup rapat
  • Setelah 10-14 hari, biji mulai berkecambah.
  • Biji yang belum berkecambah pada umur 30 hari dibuang saja.
  • Kecambah yang tumbuh normal dan sehat, warnanya kekuning-kuningan, tumbuhnya lurus serta bakal daun dan bakal akarnya berlawanan arah.

b. Persemaian dan Pembibitan

  • Kecambah dipindahkan kekantong plastik ukuran 14 x 22 cm dengan tebal 0,08 mm.
  • Isilah polybag dengan tanah lapisan atas yang dibersihkan dari kotoran dan dihancurkan sebelumnya.
  • Lakukan penyiraman polybag sebelum penanaman kecambah dan selanjutnya pada setiap pagi dan sore setelah penanaman.
  • Buatlah lobang tanam sedalam 3 cm.
  • Buatlah naungan persemaian setinggi 2,5 m
  • Setelah bibit berumur 3 bulan dipindahkan kedalam polybag yang besar dengan ukuran 40 x 50 cm, tebal 0,2 mm.

PERSIAPAN LAHAN

  • Lahan diolah sebaik mungkin, dibersihkan dari semak-semak dan rumputrumput liar.
  • Buatlah lobang tanam dengan ukuran 40 x 40 x 40 cm atau 60 x 60 x 60 cm, 2 minggu sebelum tanam dengan jarak 9 x 9 x 9 m membentuk segitiga sama sisi.
  • Tanah galian bagian atas dicampur dengan pupuk fosfat sebanyak 1 kg/lobang.
  • Lobang tanam ditutup kembali dan jangan dipadatkan.

P E N A N A M A N

  • Masukkan bibit ke dalam lobang dengan hati-hati dan kantong plastic dibuka.
  • Lobang ditimbun dengan tanah, tidak boleh diinjak-injak agar tidak terjadi kerusakan.
  • Bibit yang tingginya lebih dari 150 cm, daunnya dipotong untuk mengurangi penquapan.
  • Penanaman sebaiknya dilakukan pada awal musim penghujan.

PEMELIHARAAN TANAMAN

  • Lakukan penyulaman untuk mengganti tanaman yang mati dengan tanaman baru yang seumur dengan tanaman yang mati.
  • Cadangan bibit untuk penyulaman terus dipelihara sampai dengan umur 3 tahun dan selalu dipindahkan ke kantong plastik yang lebih besar.
  • Penyiangan gulma dilakukan 1 bulan sekali.
  • Lakukan perawatan dan perbaikan parit drainage.
  • Anjuran pemupukan Tanaman Belum Menghasilkan (TBM) seperti pada table 1.
  • Sedangkan pemupukan Tanaman Menghasilkan (TM), kebutuhan pupuk berkisar antara 400 – 1000 kg N, P, K, Mg, Bo per Ha/tahun.
  • Lakukan pemupukan 2 kali dalam satu tahun; pada awal dan akhir musim penghujan dengan cara menyebar merata di sekitar piringan tanaman.
  • Hama-hama yang sering menyerang tanaman kelapa sawit adalah Ulat Kantong; Metisaplama, Mahasena Coubessi dan Ulat Api; Thosea asigna, Setora nitens, Dasna trina. Sedangkan penyakitnya busuk tandan Marasmius sp. Hama ulat kantong dikendalikan dengan insektisida yang mengandung bahan aktif metamidofos 200/liter atau 600 g/liter, hama ulat api dengan insektisida yang mengandung bahan aktif permetrin 20 g/liter dan monokrotofos 600 g/lite.
  • Potonglah daun yang sudah tua, agar penyebaran cahaya matahari lebih merata, mempermudah penyerbukan alami, memudahkan panen dan mengurangi penguapan.

P A N E N

  • Telah dapat menghasilkan pada umur 30 bulan setelah tanam.
  • Jumlah pohon yang dapat dipanen per hektar sebanyak 60%.
  • Dipilih tandan yang buahnya sudah masak dengan tanda adanya
  • sejumlah buah merah yang jatuh (brondol ).
  • Cara panen dengan memotong tandan buah.
  • Pemanenan dilakukan 1 kali seminggu.

Iklan

Dalam 20 tahun terakhir ini, Ratusan juta tanaman diperbanyak melalui teknik mikropropagasi atau untuk lebih spesifik lagi melalui teknik in vitro setiap tahun di seluruh dunia. Karena teknik ini dipandang sebagai teknik yang dapat dibisniskan dan dibandingkan dengan perbanyakan tanaman secara konvensional. Perbanyakan tanaman melalui mikropropagasi memiliki banyak kelebihan. Untuk memperbanyak tanaman tertentu yang sulit atau sangat lambat diperbanyak secara konvensional, perbanyakan tanaman secara mikropropagasi menawarkan peluang besar untuk menghasilkan jumlah bibit tanaman yang banyak dalam waktu relatif singkat sehingga lebih ekonomis.

Dalam bidang pertanian sendiri, penggunaan teknik ini sangat berpengaruh besar dan mengalami banyak kemajuan meliputi hal-hal sbb

  • Produksi tanaman bebas pathogen
  • Produksi bahan-bahan farmasi
  • Pelestarian plasma nutfah
  • Pemuliaan tanaman dan rekayasa genetika
  • Perbanyakan klonal tanaman dengan cepat.

Seperti yang telah dikemukakan sebelumnya, manfaat utama dari teknik ini adalah untuk perbanyakan vegetatif tanaman yang permintaanya tinggi tetapi pasokannya rendah, karena laju perkembangannya dianggap lambat. Produsen benih dapat memanfaatkan teknik ini untuk memperbanyak tanaman tertua dari galur murni tertntu dalam jumlah besar, yang nantinya digunakan untuk memproduksi benih hibrida. Namun perlu diingat bahwa tanaman yang diperbanyak melalui teknik ini harus true-to- type, artinya sifat-sifat tanaman baru harus sama dengan tanaman induk atau tanaman sumber eksplan.

Perbanyakan tanaman dengan mikrorpopagasi dilaksanakan dalam suatu laboratorium yang aseptik. Laboratorium ini berfungsi untuk mengkondisikan kultur dalam suhu dan pencahayaan terkontrol yang dilengkapi dengan alat dan bahan untuk pembuatan media, penanaman, serta pemindahan kultur, yang harus dilakukan dalam keadaan steril. Disamping sebuah laboratorium, juga memerlukan rumah kaca untuk aklimatisasi planlet dari botol-botol ke lingkungan eksternal.

Hal utama yang harus diperhatikan dalam teknik ini adalah komposisi media bagi pertumbuhan eksplan. Media tumbuh ini memang sangat berpengaruh besar dalam terhadap pertumbuhan dan perkambangan eksplan serta bibit yang yang dihasilkannya. Oleh karena itu, macam-macam media telah banyak ditemukan sehingga jumlahnya cukup banyak. Selain media tumbuh, masih banyak lagi faktor-faktor yang berpengaruh dalam proses mikropropagasi . Secara lengkap faktor-faktor tersebut akan dibahas dalam bab berikutnya

Tahapan yang dilakukan dalam perbanyakan tanaman dengan teknik kultur jaringan adalah:

  • Pembuatan Media

Media merupakan faktor utama dalam perbanyakan dengan kultur jaringan. Komposisi media yang digunakan tergantung dengan jenis tanaman yang akan diperbanyak. Media yang digunakan biasanya terdiri dari garam mineral unsur hara makro dan unsur hara mikro, vitamin, dan Zat pengatur tumbuh (hormon). Selain itu, diperlukan juga bahan tambahan seperti agar, gula, agar, arang aktif, bahan organik .Media yang sudah jadi ditempatkan pada tabung reaksi atau botol-botol kaca. Media yang digunakan juga harus disterilkan dengan cara memanaskannya dengan autoklaf.

  • Inisiasi

inisiasiInisiasi adalah pengambilan eksplan atau bahan tanam dari bagian tanaman indukan untuk kemudian dikulturkan. Bagian tanaman yang sering digunakan untuk kegiatan kultur jaringan adalah tunas, ujung akar, bunga, serbuk sari, batang.

  • Sterilisasi

Sterilisasi artinya terbebas dari sumer-sumber kntaminan penyebab kontaminasi. Dan bahwa segala kegiatan dalam kultur jaringan harus dilakukan di empat yang steril, yaitu di laminar flow dan menggunakan alat-alat yang juga steril. Sterilisasi juga dilakukan terhadap peralatan, yaitu menggunakan alkohol yang disemprotkan secara merata pada peralatan yang digunakan. Sterilisasi bukan hanya pada peralatan atau eksplan saja melainkan pada pekerja yang melakukan kultur.

  • Multiplikasi

Multiplikasi adalah kegiatan memperbanyak calon tanaman dengan menanam eksplan atau propagul pada media. Media pada multiplikasi biasanya disesuaikan dengan kebutuhan yang akan dicapai. Contohnya untuk menumbuhkan tunas-tunas pada media tersebut dapat ditambahkan zpt golongan sitokinin. Kegiatan ini dilakukan di laminar flow untuk menghindari adanya kontaminasi yang menyebabkan gagalnya pertumbuhan eksplan. Tabung reaksi yang telah ditanami ekplan diletakkan pada rak-rak dan ditempatkan di tempat yang steril dengan suhu kamar.

  • Pengakaran

Pengakaran adalah fase dimana eksplan akan menunjukkan adanya pertumbuhan akar yang menandai bahwa proses kultur jaringan yang dilakukan mulai berjalan dengan baik. Untuk perakaran digunakan media MS + NAA. Proses perakaran pada umumnya berlangsung selama 1 bulan. Planlet (tunas yang telah berakar) diaklimatisasikan sampai bibit cukup kuat untuk ditanam dilapangan.

Pengamatan dilakukan setiap hari untuk melihat pertumbuhan dan perkembangan akar serta untuk melihat adanya kontaminasi oleh bakteri ataupun jamur. Eksplan yang terkontaminasi akan menunjukkan gejala seperti berwarna putih atau biru (disebabkan jamur) atau busuk (disebabkan bakteri).

  • Aklimatisasi

Aklimatisasi adalah kegiatan mengadaptasikan tanaman atau mengkondisikan tanaman dari yang semula kondisinya terkendali ke kondisi yag tak terkendali, untuk menjadi tanaman yang autotrof. Aklimatiasi dilakukan dengan memindahkan eksplan keluar dari ruangan aseptic ke bedeng. Pemindahan dilakukan secara hati-hati dan bertahap, yaitu dengan memberikan sungkup. Sungkup digunakan untuk melindungi bibit dari udara luar dan serangan hama penyakit karena bibit hasil kultur jaringan sangat rentan terhadap serangan hama penyakit dan udara luar. Setelah bibit mampu beradaptasi dengan lingkungan barunya maka secara bertahap sungkup dilepaskan dan pemeliharaan bibit dilakukan dengan cara yang sama dengan pemeliharaan bibit generatif. Aklimatisasi. Dapat dilakukan di rumah kaca, rumah kasa atau pesemaian, yang kondisinya (terutama kelembaban) dapat dikendalikan.

Teknik kultur jaringan menuntut syarat-syarat tertentu yang harus dipenuhi dalam pelaksanaannya. Syarat pokok pelaksanaan kultur jaringan adalah laboratorium dengan segala fasilitasnya. Laboratorium harus menyediakan alat-alat kerja, sarana pendukung terciptanya kondisi yang aseptik terkendali, dan fasilitas fasilitas dasar seperti air, listrik, dan bahan bakar. Laboratorium ini berfungsi untuk mengkondisikan kultur dalam suhu dan pencahayaan terkontrol. Disamping sebuah laboratorium, kultur jaringan tanama untuk memperbanyak tanaman juga memerlukan green house untuk akimatisasi planlet dari botol-botol ke lingkungan eksternal. Selain fasilitas fisik, pelaksanaan kultur jaringan juga memerlukan perangkat lunak yang memenuhi syarat. Dalam melaksanaan kultur jaringan,pelaksanaan harus memnpunyai latar belakang ilmu-ilmu dasar tertentu seperti botani, fisiologi tumbuhan, kimia, fisika, dan dalam pelaksanaannya memerlukan keuletan yang besar.